♥ Indonesia, Ragukah Saya?

Pertanyakan cinta Anda, rasakan keraguan, lalu temukan kembali jalan menuju keyakinan Anda terhadap Indonesia -Pandji PW, e-book Nasional.Is.Me, halaman 222

Bekerja langsung di bawah dua tiga orang asing (salah satunya sudah kembali ke negara asal), sekaligus mengurus banyaknya orang asing yang hilir mudik keluar masuk Indonesia, memberikan sangat banyak kesempatan bagi saya untuk meragukan cinta saya kepada Indonesia. Lebih tepatnya, kesempatan untuk mendengar Indonesia dijelekkan dan dibandingkan dengan negara lain.

Yang dibandingkan? Semuanya, mulai dari segala hal yang bersifat pribadi sampai persoalan sistem. Sebut saja, seperti rasa makanan yang tak cocok di lidah, kebersihan makanan di segala jenis tempat makan, penggunaan sumpit kayu sekali pakai, kelayakan teh atau air putih, persoalan kebersihan jalan dan gedung, acara televisi yang tidak menarik, jalanan yang macet, transportasi dan infrastruktur yang parah, signal HP yang jelek, internet yang lambat, jasa pelayanan yang buruk dan harga yang mahal dari semuanya itu.

Belum lagi, kedisiplinan dan budaya kerja, kesenjangan sosial, ketidakmampuan berbahasa Inggris, birokrasi yang rumit di mana saja, korupsi, tradisi suap, kejahatan dan keamanan, demonstrasi, sistem kesehatan, sistem nilai dan kepercayaan, ideologi bahkan sistem pemerintahan dan politik. Semuanya.

Somehow, you can't compare two different countries, it's not apple to apple comparison. Tapi yah, sangat amat wajar kalau orang yang bekerja di negara lain akan membandingkan negara itu dengan negaranya sendiri. Dan ketika kemudian, orang itu menyatakan bahwa ia lebih mencintai negaranya sendiri, itupun sangat wajar bagi saya. Yang tidak wajar bagi saya adalah, ketika orang itu terus menjelekkan negara lain, cenderung merendahkan tidak percaya pada negara itu dan seluruh isinya, terus memandang negara itu dari sisi negatif. Saya pribadi memandangnya sebagai bagian dari chauvinisme. *Ini termasuk gerakan Indonesia menghina bangsa lain, seperti Malaysia*

Kemarin, dalam sebuah meeting dengan 3 orang tamu asing, topik yang sedang dibahas adalah internet di Indonesia yang lambat sehingga kemungkinan besar seluruh server data harus ditempatkan di luar negeri dan hal tersebut cukup merepotkan pekerjaan. Lalu saya mendengar atasan saya berkata dalam bahasa asalnya (sehingga tidak dimengerti peserta yang lain),
Benar, internet di Indonesia memang lambat. Itu karena internet Indonesia harus dioper ke Amerika lebih dahulu, sebelum ke negara asal yang mau diunduh. Jadi kalau mau ambil data di Malaysia, harus tersambung ke Amerika dulu, baru bisa ambil data dari Malaysia. Indonesia kan tidak seperti kita, yang bisa berdiri tegak menolak monopoli Amerika. Indonesia masih bergantung pada Amerika dan tidak berani melawan Amerika.

Saya satu-satunya orang Indonesia di ruangan itu yang mengerti apa yang mereka bicarakan, dan saya memandang marah ke atasan saya dari sudut ruangan tempat saya duduk, tapi saya tidak dapat berkata apa-apa. :(

Saya memang tidak tahu kebenaran kalimatnya tentang dunia internet dan saya pun tidak tahu tentang fakta kebenaran hubungan Indonesia-Amerika. Tapi saya yakin, Indonesia tidak bergantung, karena Amerika juga butuh Indonesia. Indonesia juga tidak takut pada Amerika! Bahkan walaupun itu semua benar, tidak ada hubungannya dengan meeting dan tidak relevan disampaikan oleh orang bukan Indonesia. :x

Sehabis meeting itu, saya menemani atasan dan ketiga orang tamu untuk makan siang. Dan ketahuilah, hampir 50% isi percakapan makan siang itu adalah tentang perbandingan yang saya ceritakan di atas. Sementara 30% lainnya adalah tentang bulan puasa di Indonesia dan perilaku Muslim Indonesia yang mereka temui, mulai dari malas bergerak kalau puasa, ketahuan merokok dan curi-curi minum, tempat makan yang tidak buka, sampai liburan dan mudik. Sisa 10% adalah karakteristik menyebalkan orang Indonesia yang ada di kantor saya.

Maafkan saya, saya tidak melakukan upaya maksimal untuk memperbaiki keadaan. Saya sempat menyela dan bicara tapi akhirnya kalah dalam perdebatan karena sebagian besar perbandingan itu ada benarnya. :( Walaupun saya tetap sebal karena yang dibicarakan hanya sisi negatifnya saja.

Ada satu hal unik saat memesan makanan, salah satu tamu memesan jus mangga karena katanya di luar negeri, mangga Indonesia terkenal sangat enak, bahkan dikenal sebagai yang paling baik. Saya berdebar ketika pesanan datang, dan akhirnya tersenyum ketika dia bilang,
Wah, memang mangga Indonesia enak sekali. Ini sangat enak.

Akhirnya, mengacu kembali ke paragraf awal tulisan ini. Saya diberi banyak alasan logis untuk meragukan cinta saya, tapi justru semakin banyak orang mengutarakan alasan-alasan logis itu, hati saya berdebar menderu, marah dan terluka. Saya tahu, bagaimanapun saya CINTA Indonesia.

Saya mendengar dan melihat pendapat mereka tentang Indonesia, dan saya ingin mereka membuktikannya sendiri, seperti jus mangga itu. Mereka boleh mendengar bagaimana indah atau buruknya negeri ini dari media apa saja, tapi Indonesia sendirilah yang akan memastikan mereka kenal siapa Indonesia sesungguhnya. Mari kita pastikan mereka kenal Indonesia yang berbudi luhur dan luar biasa!

Negeri yang berbudaya dan ramah, maju dan inovatif, aman damai dan tentram.

pic source unknown

© Jak – 170811 – 1300 ©
Powered by Blogger.