Jam Tanganku Rusak

Dua bulan terakhir, jam tanganku rusak tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dan dari sana, aku teringat beberapa hal.

Nah, waktu jam kupasang ke tanganku, aku tidak memperhatikan jam itu rusak atau tidak. Sampai satu/dua jam kemudian, aku baru sadar kalau jam itu rusak.

Kadang, kebiasaan . rutinitas membuat kita melakukan hal seadanya. Misalnya kebiasaan menyikat gigi atau mandi. Kita tidak sadar bahwa cara kita membersihkan tidak tepat, sehingga ujungnya kesehatan terganggu. Termasuk juga kebiasaan berdoa, kebiasaan membaca Alkitab, kebiasaan ke gereja. Ketika berdoa menjadi kebiasaan / rutinitas TANPA ketajaman dan kewaspadaan akan kebenaran, saat itu pertumbuhan rohani kita berhenti.

Waktu jam rusak itu nggak kulepas, orang lain nggak tahu jam itu rusak. Tampak luar baik-baik saja. Hanya, yah jam itu jadi nggak ada gunanya buatku.

Dari luar, segala sesuatu bisa terlihat indah. Tapi, keindahan belum tentu berarti fungsional, mengerjakan tujuan utama. Kalau barang tidak melakukan tujuan utama dia diciptakan, buat apa dia disimpan, bukankah sebaiknya dia dibuang saja? Nah, kita sebagai manusia, apakah kita sudah melakukan tujuan utama kita diciptakan?

Setelah memperhatikan beberapa saat, aku tahu di mana kerusakan jamku. Baterainya masih bagus tapi jarum detiknya bergerak tidak wajar. Setiap maju dua kali, jarum detik akan mundur sekali. Lama-lama waktu yang ditunjukkan salah.

Dalam hidup, baterai kita adalah Firman Tuhan. Kita mungkin tahu Firman Tuhan, tapi ketika kita tidak bergerak atau bergerak tetapi dengan kecepatan yang salah, kita tidak bisa dipakai, tidak berguna. Baterai ada saja tidak cukup. Bergerak saja tidak cukup. Harus ada tujuan dan arah yang benar.

Sekian hehe..
© Jak - 190111 – 1717 ©
Powered by Blogger.